Pendidikan polisi di Indonesia dikenal dengan sistem disiplin ketat, keras, dan penuh aturan. Sejak masa pendidikan, calon anggota polisi dibentuk agar siap menghadapi situasi darurat, mengutamakan ketertiban, dan patuh pada instruksi. Namun, sering muncul pertanyaan kritis: mengapa disiplin yang ditempa di lingkungan pendidikan polisi justru kerap berujung pada praktik keras kepada rakyat, bukan kepada para koruptor atau pelaku kejahatan kelas kakap?

Disiplin Ketat dalam Pendidikan Polisi

  1. Latihan Fisik dan Mental
    Pendidikan kepolisian menekankan daya tahan fisik, kemampuan bela diri, dan kesiapan menghadapi situasi berisiko tinggi.

  2. Hierarki dan Kepatuhan
    Sistem senior-junior, aturan kaku, dan kepatuhan penuh terhadap atasan dianggap penting untuk menjaga wibawa institusi.

  3. Penguasaan Lapangan
    Calon polisi diajarkan cara mengendalikan massa, melakukan patroli, hingga penggunaan senjata dalam keadaan tertentu.

Kontradiksi di Lapangan

Meskipun disiplin ketat ditanamkan, dalam praktiknya masyarakat sering merasa justru menjadi “kelinci percobaan” dari sikap keras aparat. Misalnya:

  • Demonstrasi mahasiswa atau rakyat kecil kerap dibubarkan dengan kekerasan.

  • Pelaku kejahatan kerah putih seperti koruptor justru sering diperlakukan halus.

  • Kasus salah tangkap masih terjadi, membuat rakyat merasa jadi korban.

Mengapa Bisa Terjadi?

  1. Bias Prioritas Penegakan Hukum – Fokus lebih pada penertiban massa ketimbang penindakan pelaku kejahatan besar.

  2. Budaya Hierarki yang Kaku – Membuat calon polisi terbiasa tunduk pada sistem, tapi kurang terbiasa berdialog dengan rakyat.

    baca juga: Kurangnya Pendidikan Empati dan HAM – Disiplin fisik

Solusi untuk Pendidikan Polisi yang Lebih Progresif

  • Memperkuat Kurikulum HAM dan Empati: Polisi bukan hanya penegak hukum, tapi juga pelayan masyarakat.

  • Menggeser Fokus dari Kekerasan ke Dialog: Mengutamakan pendekatan persuasif dalam menghadapi rakyat.

  • Evaluasi Sistem Latihan: Agar tidak hanya mencetak polisi yang keras, tapi juga yang cerdas dan humanis.

  • Tindakan Tegas untuk Oknum: Agar disiplin yang ketat tidak berhenti di bangku pendidikan, tapi benar-benar tercermin dalam praktik.

Pendidikan polisi memang penting untuk membentuk aparat yang disiplin. Namun, tanpa keseimbangan antara kekerasan dan empati, rakyat bisa merasa diperlakukan sebagai “kelinci percobaan.” Reformasi pendidikan kepolisian diperlukan agar disiplin ketat bisa benar-benar melahirkan polisi yang tangguh sekaligus humanis dalam melayani masyarakat.